2

Untitled #1

Lihatlah,

Lihatlah lantai hatiku yang basah oleh tumpahan air kerinduan. Ia meluap kemana-mana membasahi setiap sudut hatiku.

Rasakan,

Rasakan hentakan beribu kuda berpelana ke-sukacita-an yang memenuhi dadaku. Mungkin kau takkan mampu bertahan bila menjadi aku. Ini begitu sesak! Aku saja nyaris mati karena bahagia!

Dengarlah,

Dengarkanlah nyanyian dari ribuan peri di kepalaku. Mereka nyanyikan lagu cinta. Kadang iramanya begitu lembut hingga aku terbawa rindu. Kadang begitu cepat temponya hingga aku kelelahan menari bersama cinta.

Biarkan,

Biarkan aku hanyut dan larut. Aku tak pernah keberatan jika aku harus….

9

Disebut Apakah Ini?

Disebut apakah ini?

Perasaan membuncah setiap mataku menatap gambar dirimu di ponselku?

Disebut apakah ini?

Perasaan bahagia yang tumpah kesana kemari hanya karena mendengar suaramu di seberang sana?

Disebut apakah ini?

Barisan aksara darimu yang mampu menyihirku seketika dan mengukir senyum malu di bibirku.

Baiklah, mungkin ini terlalu berlebihan. Mungkin ini terlalu kekanakan. Mungkin semua ini keterlaluan. Tapi aku tidak bisa menahannya. Ini menjadi semacam ketergantungan.

Mungkin kau lah alasan melesatnya dopamin dalam darahku. Mungkin kau juga alasan meningkatnya adrenalinku. Mungkin ini disebut gila. Ya, mungkin, mungkin saja.

6

Bumi

Dear Lunar. Masihkah aku dihatimu? Aku disini merindumu. Tumpukan awan dan sekawanan petir ini menghalangi pandanganku terhadapmu. Beberapa hari tak dapat melihatmu, mungkin sebentar lagi pertahananku akan akan runtuh. Aku teramat merindukanmu. Baik-baiklah kau disana.

lunar-earth

Lunar, aku tahu kita tak akan pernah bersatu, aku teramat sangat menyadari itu. Tapi, ketahuilah. Kaulah cahayaku malamku. Hanya kau yang mampu menerangi gelapku. Biarkan kita hanya mampu saling menitipkan rindu. Saling menatap dari jauh tanpa bisa bersatu, biarkan. Cinta ini begitu ikhlas. Bukan karena aku tak ingin memilikimu atau tak ingin bersamamu. Tapi, takdir Tuhan lebih indah bukan?