2

Rindu untuk Dodit

Perbatasan Sidoarjo, 16 Maret 2014 – 23:14

Continue reading

Advertisements
15

Asta – Nirmala

Asta. Nama lelaki yang kutemui siang tadi di kampusku bernama Asta. Salah satu dari sekian handai taulan yang kukenal. Perawakannya tinggi, tak terlalu tampan, rapi dan ciri khasnya, aroma tembakau. Hari ini aku bertemu dengannya secara tak sengaja, di depan halaman kampusku. Hanya bertatap sepersekian detik. Tak ada sapaan. Tak ada senyum. Dia hanya berlalu begitu saja. Dia, dengan seragam biru itu. Continue reading

2

Titip Rindu

hey apa kabar?” — hapus

sedang apa? lama kita tidak…” —- hapus

hey kamu. apa kabar? tampaknya sekarang kau bahagia. aku…” — hapus

aku tau, tak seharusnya aku menghubungimu lagi, tapi aku rindu.”

***

Serangkaian kata yang sudah beberapa kali aku hapus dan terganti dengan deret yang lain itu berakhir pada sebuah pengakuan, rindu. Ya, aku merindukanmu. Kalimat itu ingin kukirimkan padamu, tapi. . . Tak mungkin!!!! Itu sangat tidak mungkin. Hati kecilku melarangnya. Entah apa alasannya.

Aku masih memandang rangkaian kata itu. Dia menuntut untuk diberi kepastian, dikirim atau tidak. Semakin kupandang, rasanya semakin sesak. Aku memutuskannya tetap seperti itu, menunggu. Biarkan saja dulu, aku ingin mengalihkan perhatianku sejenak dengan . . . Sial! Bahkan semalaman aku memutar lagu-lagu yang dulu pernah kau kirimkan padaku! Tak adakah hal yang tidak berhubungan denganmu?

***

“Rasa yang belum bisa dipertanggungjawabkan, jangan disampaikan. Abaikan. Karena semakin di rasa ia akan semakin menjadi. Biarkan serangkaian kata itu terbawa oleh hembusan angin yang menggoyangkan tubuh rerumputan. Biarkan takdir yang menyampaikannya. Titipkan saja, jangan dikatakan, jangan disampaikan.”

***

Angin? Angin yang sedang berhembus di sekitarku saat ini hanyalah udara yang berputar-putar dari kipas angin disampingku. Jika kusampaikan padanya, bukankan anginnya akan kembali menerpa wajahku? Lalu, dimana saat angin itu berhembus padamu? Ah, tak masuk akal! Semua yang berhubungan denganmu memang tak pernah masuk akal. Juga perasaanku. Dan aku jenggah olehnya.