2

Untitled #1

Lihatlah,

Lihatlah lantai hatiku yang basah oleh tumpahan air kerinduan. Ia meluap kemana-mana membasahi setiap sudut hatiku.

Rasakan,

Rasakan hentakan beribu kuda berpelana ke-sukacita-an yang memenuhi dadaku. Mungkin kau takkan mampu bertahan bila menjadi aku. Ini begitu sesak! Aku saja nyaris mati karena bahagia!

Dengarlah,

Dengarkanlah nyanyian dari ribuan peri di kepalaku. Mereka nyanyikan lagu cinta. Kadang iramanya begitu lembut hingga aku terbawa rindu. Kadang begitu cepat temponya hingga aku kelelahan menari bersama cinta.

Biarkan,

Biarkan aku hanyut dan larut. Aku tak pernah keberatan jika aku harus….

9

Disebut Apakah Ini?

Disebut apakah ini?

Perasaan membuncah setiap mataku menatap gambar dirimu di ponselku?

Disebut apakah ini?

Perasaan bahagia yang tumpah kesana kemari hanya karena mendengar suaramu di seberang sana?

Disebut apakah ini?

Barisan aksara darimu yang mampu menyihirku seketika dan mengukir senyum malu di bibirku.

Baiklah, mungkin ini terlalu berlebihan. Mungkin ini terlalu kekanakan. Mungkin semua ini keterlaluan. Tapi aku tidak bisa menahannya. Ini menjadi semacam ketergantungan.

Mungkin kau lah alasan melesatnya dopamin dalam darahku. Mungkin kau juga alasan meningkatnya adrenalinku. Mungkin ini disebut gila. Ya, mungkin, mungkin saja.

15

Asta – Nirmala

Asta. Nama lelaki yang kutemui siang tadi di kampusku bernama Asta. Salah satu dari sekian handai taulan yang kukenal. Perawakannya tinggi, tak terlalu tampan, rapi dan ciri khasnya, aroma tembakau. Hari ini aku bertemu dengannya secara tak sengaja, di depan halaman kampusku. Hanya bertatap sepersekian detik. Tak ada sapaan. Tak ada senyum. Dia hanya berlalu begitu saja. Dia, dengan seragam biru itu. Continue reading