Puisi Masa Lalu

Songlit Challenge #2

Ingin sungguh aku bicara satu kali saja

Sebagai ungkapan kata perasaanku padamu

Lagu ini. Lagu yang sama dengan waktu itu di ruang mading sekolah. Waktu kau mendatangiku dengan amarah. Marah karena puisimu tak pernah aku pajang di mading. “Hei perempuan sombong! Apa masalahmu denganku? Kenapa puisi-puisi jelek itu lebih layak ditempel daripada puisiku? Aku ini….” “Kau memang pemenang lomba puisi yang diadakan gubernur tahun ini, tapi untuk dapat memajang puisi di mading itu adalah hakku. Aku yang memutuskan!” Dan kemudian kau keluar dengan kesal. Kau tau? aku merasa senang karena angkuhmu itu tak mempan denganku.

Telah cukup lama kudiam didalam keheningan ini

Kubekukan di bibirku tak berdayanya tubuhku

Kau tak pernah menyerah dengan segala usahamu. Lima puisi kau kirim dalam sehari. Aku meletakkannya di ujung ruangan. Di kardus bernamakan namamu “Langit”. Semua tak pernah kubaca hingga kau sekali lagi, datang untuk mengomel lagi, tapi semua hanya tertahan di tenggorokanmu. Kau tercekat saat melihat kardus itu. Tatapan benci yang sampai sekarang membayangiku. Membuatku senang sesaat, dan menyesal kemudian. Setelahnya, tak ada lagi puisi darimu, hingga kita lulus.

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku

Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku

Kardus itu sekarang ada dikamarku. 1325 puisi termasuk pernyataan cinta di beberapa tulisannya. Pernyataan cinta untukku. Untuk saingan terberatmu di lomba saat itu. Sepertinya dendam karena tak dapat memenangkan lomba itu darimu telah membuatku menjadi orang yang sangat jahat. Hingga aku tak pernah sadar tentang semua itu.

Kau yang sungguh selalu setia menemani kesepianku

Menjaga lelap tidurku membasuhku setulusnya

“Luna, belum tidur?”

“Belum, aku sedang membaca setumpuk puisi masa lalu. Dari orang yang paling kubenci karena telah mengalahkan ketua mading sekolah.”

“Hahaa, kamu masih belum bisa move on?”

“Ini bukan perkara move on, aku hanya terbebani dengan egois masa laluku. Maukah kau sampaikan maaf untuk masa laluku itu?”

“Iya, nanti aku sampaikan.”

“Jangan nanti, sekarang!”

“Minta maaf kok maksa. Oke, sebentar. Langit masa lalu? Halo, Luna minta maaf nih, oke, oke, beres, oke bye.

“Sudah?”

“Iyaa sudah, ayo tidur.”

“Makasih Langit masa sekarang, semoga akan terus menjadi Langitku di masa depan ya.”

Advertisements

One thought on “Puisi Masa Lalu

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s