Selamat

Selamat Hari Pahlawan πŸ˜€

hari dari

Late post banget ya? Ahahaha, better than never, anggep aja gitu :mrgreen: Hari Pahlawan ini ternyata barengan sama ultahnya UNAIR looh. Bareng sama ITS juga. Waoow, baru tau sekarang kalo duo kampus ini ultahnya bareng hehe. Semoga kedua perguruan tinggi ini mampu menempa para mahasiswanya menjadi pribadi yang tangguh dan berkualitas tidak hanya ditinjau dari hard skill tetapi juga soft skill, aamiin.

Pembahasan tentang Hari Pahlawan pasti ga jauh dari Surabaya, Kota Pahlawan tempat saya lahir dan sekarang tinggal. Kalo bahas Surabaya, pasti nyambung ke kosa kata khasnya, jancuk. Ah, jancuk itu bukan sekedar umpatan kok. Kata ini sudah jadi kata sapaan, kata imbuhan atau jenis kata lain yang sekiranya cocok diberi tambahan β€œcuk” :mrgreen: Lalu, apa hubungan jancuk dengan Hari Pahlawan?

Jadi kemarin waktu tanggal 10 Nopember, saya membaca timeline di twitter ataupun status facebook dari para kawan sejawat, sebagian besar membahas hal yang sama.

β€œBerapa kali jancuk terucap dari mulut para pejuang saat mempertahankan kemerdekaan? Berapa kali jancuk terlontar saat para pejuang berkobar melawan penjajah? Berapa banyak jancuk yang memenuhi jalur peperangan kala itu?”

Menurut saya ini adalah hal yang menarik, walau tidak tercantum di buku sejarah, jelas itu pasti terjadi. Jika saya membayangkan kejadian waktu itu dan mereka-reka percakapan para pejuang dengan cak-cuk-cok-nya itu, saya jadi senyam-senyum sendiri πŸ˜† Belum lagi ketika kemenangan diraih karena jancuk tidak hanya terucap saat marah, tetapi juga senang. Ehm, semua kondisi sepertinya bisa-bisa saja diberi imbuhan itu kalo di Surabaya hehee. Saya ga tau inti tulisan saya kali ini apa, serius :mrgreen: saya hanya suka menghubungkan semuanya πŸ˜†

Masih tentang Hari Pahlawan. Taukah kawan blogger dimana pertumpahan darah saat peristiwa 10 Nopember? Ya, Jembatan Merah. Dinamakan demikian karena jembatan itu bersimbah dengan darah saat itu. Seingat saya sih. Jika di luar negeri tempat bersejarah selalu dijaga dan benar-benar dinetralisir atau dijadikan obyek wisata, maka beda dengan Jembatan Merah Surabaya. Tempat ini jauh dari kesan mistis atau angker karena adanya pertumpahan darah puluhan tahun yang lalu. Di tempat ini justru ramai karena dijadikan pasar, ya pasar πŸ˜€ Pertempuran 10 Nopember yang digadang-gadang sebagai pertempuran tersengit setelah Perang Dunia 2 ternyata tidak menimbulkan keangkeran. Tempat ini justru ramai dan hidup oleh hiruk pikuk perdagangan. Ini bagus, tapi nilai historialnya jadi berkurang hehee. By the way, paragraf yang ini adalah bahasan saya dengan salah satu murid beberapa waktu lalu. Tempat bersejarah yang kian sirna nilai historialnya.

Oke, saya sudahi tulisan ga jelas ini. Poin penting, tetaplah jadi pahlawan minimal untuk diri sendiri. Menolong diri sendiri dengan berusaha mandiri. Membahagiakan diri sendiri dengan melakukan hal-hal positif. Menghargai diri sendiri dengan menjaga kehormatan diri. Hahaa, lagi-lagi ga nyambung ya antara simpulan dan isi? Biarin deh, yang penting Selamat Hari Pahlawan πŸ˜€

Advertisements

4 thoughts on “Selamat

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s