Ibu, Ini Perasaan Apa?

Ibu, ini perasaan apa? Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Klise, tapi bukankah setiap rasa itu memang memiliki esensi yang berbeda?

Ibu, aku baru mengenalnya, baru saja. Aku menyukainya. Jatuh cinta? Terlalu cepat mengatakan ini cinta, dan aku sedang tidak dalam keadaan terjatuh, aku seimbang. Ini hanya sekedar suka. Suka bicara dengannya. Suka bercanda dengannya. Suka menghabiskan waktu bersamanya.

Ibu, lalu ini perasaan apa? Kurasa aku terlalu cepat jika merasa nyaman dengannya. Tapi, memang itulah yang kurasa. Kami memiliki cara pandang yang sama tentang kehidupan, hubungan juga. Kami memiliki kebiasaan yang sama. Entah berapa banyak lagi kesamaan yang akan kutemui karena aku singkat sekali mengenalnya. Aku belum tau apa-apa tentang dia. Sangat sedikit, tapi mengapa aku begitu yakin?

Ibu, layak disebut apakah rasa ini? Dia merasakan hal yang sama sepertiku. Tapi kami memitalnya perlahan. Kami, lagi-lagi memiliki kesamaan tidak ingin melakukan hal yang sia-sia. Kami masih saling mengenal. Kami masih belajar untuk saling mengerti. Ini semua awal. Awal yang indah kan Bu?

Ibu, aku tak tau harus bagaimana. Aku hanya ingin menceritakan dia, dia dan dia. Pasti Ibu bosan ya? Jangan. Mungkin aku akan lebih banyak menceritakannya nanti. Masih banyak yang belum aku ketahui tentang dia. Masih banyak hal yang akan kuceritakan pada Ibu.

Jika Ibu khawatir tentang agamanya, aku sudah memastikan hal itu dari awal. Jika ibu khawatir tentang tabiatnya, aku sedang mempelajarinya. Jika ibu khawatir akan prioritasnya terhadap keluarga, dia sudah membuktikannya jauh sebelum dipinta.

Ibu, perasaan ini, aku hanya ingin memastikan aku tak menyembunyikannya darimu. Karena inilah yang mewarnaiku akhir-akhir ini. Karena dialah yang menyemangatiku lebih akhir-akhir ini. Karena dia pula yang membuatku lebih sering tersenyum daripada biasanya. Tapi, perasaan ini tentu tak selalu indah kan? Perasaan ini mungkin beberapa hari lagi, beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun kemudian berubah menjadi amarah, kesal, kesedihan. Tapi Ibu, rasa-rasa itu yang menjadikanku dewasa seperti yang sudah-sudah. Ingatkan dan kuatkan aku. Ibu, Aku membutuhkan itu.

Advertisements

19 thoughts on “Ibu, Ini Perasaan Apa?

  1. Pingback: A week Piclit Challenge #5 : Temanku | UNTUKMU DAN AKU JUGA

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s