Mawar

IMG_20130605_141127

Mawar 1 – pukul 15:15

Mawar merah dengan note “cinta itu memilih, bukan dipilih” diberikan oleh seorang gadis dengan setelan kaos bergaris hijau putih untukku. Saat aku menanyakan asal mawar itu, dia hanya tersenyum.

Mawar 2 – 15:20

Mawar putih. Kali ini dengan tulisan “hidup itu pilihan” semakin membuatku penasaran. Lelaki tinggi itu memberikan mawar ini sambil tertawa kecil. Aku malu. Astaga!

Mawar 3 – 15:23

Mawar merah. “dan aku memilihmu“. Siapa gerangan pengirim bunga ini? Tidakkah ia bisa mengantarkannya sendiri?

Mawar 4 – 15:31

Mawar merah. Dibawa oleh seorang gadis berkacamata. Kali ini aku sudah tak malu. Aku kebal dan sebal. “maukah kau?

***

Aku mendatanginya. Dia yang duduk dengan wajah merajuk di teras rumahnya itu sedang memandang ke beberapa tangkai mawar yang ada dipangkuannya. Alisnya nyaris bertemu karena dahinya yang menggerut. Mulutnya tak komat-kamit, tapi aku tahu dia sedang mengomel di dalam hati. Ah, bahkan dengan keadaan seperti ini dia tetap terlihat manis dimataku.

***

Sebuah suara yang kukenal memanggil namaku. Pria yang dulu adalah teman sekampusku. Dia membawa mawar putih ditangannya. Keterlaluan sekali pengirim mawar ini! Bahkan lelaki pendiam dan sebaik Nano pun direpotkannya untuk dijadikan kurir.

Nano mendekat. Memberikan mawar itu untukku sambil tersenyum. Senyum itu. Ah, perasaan ini masih ada. Dia yang dulu kukagumi, hatiku selalu berdesir setiap menatap teduh matanya. Tapi mana berani aku menyatakan terlebih dahulu? Aku kan wanita.

***

Aku berikan mawar itu untuknya. Mawar putih dengan tulisan “maukah kau menjadi halal bagiku?” membuatnya terhenyak dan menahan nafas untuk beberapa saat. Aku hanya dapat tersenyum, pahit, aku takut ditolak. Aku menelan ludah. Ini adalah saat-saat yang sudah kupersiapkan sejak dulu. Tanganku mulai berkeringat. Lidahku kelu. Astaga, mengapa begitu sulit?

“Mili, semua mawar itu… Ehhmm… Itu semua dariku.” Aku diam sejenak, mengatur nafas. Huuft, oke. “Aku, menginginkanmu untuk… Uhhm.. Menjadi.. Ehemmh.. Menjadi……….” Astaga! Bibirku kaku. Kakiku gemetar. Mengapa bisa begitu mendramatisir? Apa karena aku belum pernah menyatakan perasaanku kepada wanita mana pun?

***

Semua mawar ini? Nano? Astaga! Mimpi apa aku? Dia melamarku! Di teras rumahku! Aku gemetar. Tiba-tiba aku menggigil. Mungkin aliran darahku kian melambat hingga nyaris berhenti. Aku hanya bisa memainkan ujung salah satu mawar sambil memilin ujung jilbabku. Nano? Astaga!

***

“Maukah kamu menikah denganku?”

“……..”

“Mili, aku tidak memaksa. Tak apa jika kau menolak. Aku tahu ini tampak tiba-tiba bagimu, tapi aku sudah menyimpan rasa padamu sejak kita semester 4. Hanya saja, aku tidak ingin menodaimu dengan menjadikanmu kekasih sementara. Aku ingin menjadikanmu istri, teman hidup, pendampingku hingga akhirat nanti.”

“…….”

“Aku siap Mili. Aku bahkan tidak terlalu yakin kau mau menerimaku. Aku……..”

“Nano. Jika kau bicara terus, kapan aku bisa menjawab pertanyaanmu?”

“Maaf, aku gugup sekali, hehee.”

“Aku juga menyukaimu. Tapi….”

“Iya, maafkan aku yang lancang Mili. Caraku ini…….”

“Tapi aku ingin kau tidak terlalu lama menunda untuk mengatakan pada orang tuaku bahwa kamu meminangku.”

“………”

“………”

Advertisements

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s