Segitiga

“Sebenarnya karya Anda yang satu ini berbentuk apa? Lukisan timbul macam relief atau memang dibuat sedemikian hingga mendekati nyata?” tanya wartawan itu memberondong Rendra dengan pertanyaan-pertanyaan ingin tahunya di pameran Rendra yang ketiga ini. “Saya juga bingung menyebut ini dengan apa. Saya hanya mengumpulkan koran-koran bekas saya dan kemudian saya bentuk seperti ini. Korannya sendiri saya lapisi lilin setelah proses perwarnaan. Ya beginilah jadinya. Ini hanya karya iseng hahahaa.”

two of

“Kumohon, percayalah padaku mas, kami hanya. . Kami hanya. .”

“Cukup Sri! Aku sudah muak dengan segala tipu dayamu! Aku tau, aku tidak bisa membahagiakanmu dengan materi. Aku hanya pelukis yang tak akan pernah terkenal, aku tahu! Tapi jangan khianati aku seperti ini! Baik kau tinggalkan aku daripada kau sakiti aku seperti ini.”

“Mas, Gito itu cuma. . .”

“Tutup mulutmu! Masuk ke kamarmu! Sekarang!”

***

“Jangan Gito, aku sudah tak berani lagi. Tolong, pergilah. Biarkan hanya ada aku dan mas Rendra.”

“Apa yang kau harap dari lelaki tak berpenghasilan itu? Uang tak punya, 7 tahun menikah pun kau belum dikarunia anak. Apa yang kau harapkan? Apa Sri?”

“Dia tulus padaku Gito, dia mencintaiku. Bukan karena tubuhku!”

“Jadi, selama ini kau anggap aku main-main?”

“Kau bahkan tidak pernah membiarkan aku menikmatinya. Kau selesai, selesai semua. Apa kau pikirkan aku? Tidak! Bahkan aku tidak pernah merasakan puncak kenikmatan saat bersamamu.”

“Lalu mengapa kau bertahan denganku selama 2 tahun ini Sri? Kenapa?”

***

“Kau ingin bersama Sri?”

“Ya.”

“Kau benar-benar keterlaluan.”

“Kenapa? Aku belajar untuk normal. Apa salah?”

“Tentu salah! Sri itu istriku! Kenapa kau makan istriku?”

“Karena aku ingin kau rasakan sakit seperti yang aku rasakan dulu Ndra.”

“Keparat kau Gito! Cinta kita sudah lama berakhir! Lupakan!”

“Melalui Sri, aku melupakanmu.”

“Jahanam kau!”

***

Gito memaksa Sri untuk bercumbu. Sri meronta, mempertahankan dirinya. Tapi, godaan Gito lebih manis daripada penolakannya. Lambat laun ia melemah. Kini yang terdengar hanya desah pasrahnya. Tak lama kemudian Rendra datang. Sri terkejut sembari menarik daster sekenanya. Gito tersenyum kecut dan mulai mendatangi Rendra, tanpa celana. Sri berlari keluar kamar, diikuti Rendra yang kalap. “Sriiiiiiiii, mati kamu Sri!” teriaknya. Gito berlari berusaha menangkap Rendra. Ia mendapatkannya dan memeluk Rendra “Kau ingin kucumbu juga seperti dulu, sayang?”

***

Aku menggali tempat aku menumpuk mayat mereka. Sri si pengkhianat dan Gito si ular busuk. Aku akan mengabadikan mereka di kanvasku. Toh tulang mereka belum terlalu hancur. Ambil Sri. Aku sudah tak butuh Sri. Kau ingin normal? Akan aku wujudkan. Peluk dia selamanya, Gito.

tulisan ini disertakan sebagai pelengkap dari serangkaian Piclit Challenge Week yang diikuti Tutus, Septia, Atut, Enya dan pemberi gambar kali ini, Illay, Ilmi alay :mrgreen:

Advertisements

12 thoughts on “Segitiga

  1. Pingback: A week Piclit Challenge #4 : I’m Sorry | UNTUKMU DAN AKU JUGA

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s