Dia

30 Oktober 2006

Dia berada di dermaga kecil itu sambil melambaikan tangannya padaku. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kabut yang ada di sekitarnya. Perahuku merapat. Kupandangi ia secara perlahan tapi aku tetap tak tau siapa dia. “Ayo” ujarnya sambil menjulurkan tangannya untuk membantuku naik ke dermaga tempat ia berdiri. “Capek ya?” ujarnya lembut. Kujawab hanya dengan menggelengkan kepalaku saja. “Ayo ke tempat biasa.” ujarnya, masih dengan menggenggam tanganku. Aku masih tak bisa melihat wajahnya, tapi dari nada bicaranya, dia tampak bahagia mengajakku ‘ke tempat biasanya’ yang aku tak tau itu dimana.

22 Maret 2007

Langkahnya yang pendek-pendek membuatku memperlambat langkahku. Apa yang dia nikmati dari gedung-gedung usang ini? Mengapa dia peduli padahal pemerintah saja sudah tak mengindahkan seluruh bangunan tua ini lagi? Lalu, mengapa aku menurut saja untuk berjalan disampingnya, mendengarnya berceloteh tentang semua sejarah bangunan ini? Aih, anehnya aku. Kupandangi lelaki tegap disampingku ini. Aku tak bisa melihat wajahnya, dia lebih tertarik untuk membicarakan sejarah bangunan itu sambil menghadap ke arah bangunan yang diceritakannya daripada sekedar menoleh kearahku. Aku menunduk, kuperhatikan sepatu casual coklat tua yang dipakainya. Lalu aku perhatikan penampilannya. Jeans hitam, kaos merah yang dipadukan dengan jaket jeans berwarna coklat. Ada sebuah jam tangan yang menghiasi tangannya. Siapa orang ini? Mengapa aku disini bersamanya?

4 September 2007

Ada tumpukan ratusan kontainer dihadapanku. Sebuah alat berwarna kuning mencengkeram salah satu kontainer yang terletak paling atas, kemudian ia menurunkannya tak jauh dari tempatku berdiri. “Akhirnya barang kita sampai juga ya. Sudah bolak-balik kesini selama dua minggu buat ambil nih barang, akhirnya sampai juga.” kata lelaki itu sambil mendekati kontainer. “Barang apa? Di kirim dari mana?” kataku sambil memandang ke arah lelaki itu. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, dia memakai topi hijau pupus yang menutupi pandanganku. “Loh, masa lupa. Ini kan kadoku buat kamu. Kado yang aku janjiin. Masa lupa? Eh, bentar ya, aku pinjem palu buat buka pintu kontainer ke pegawainya dulu, tunggu sini ya.” Kado? Siapa yang ulang tahun? Ulang tahunku sudah lewat lama dan barang macam apa yang harus dikirimkan dengan kontainer? “Aku dapet nih palunya. Beberapa pegawainya juga mau bantuin aku buat buka. Lumayan ga kerja sendiri hehee. Aku buka ini dulu ya. Kamu tunggu aja di situ. Oke?” katanya sambil berjalan ke arah kontainer itu. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi aku tetap tak tau, siapa dia.

12 Desember 2008

Seorang lelaki duduk santai sembari menikmati senja. Pantai ini memiliki sudut yang cantik untuk menikmati matahari tenggelam. Debur ombak bagai sebuah simfoni apik dipadukan dengan atmosfer kejinggaan seperti ini. Cantik. Aku berjalan perlahan menyusuri pantai. Membiarkan kakiku disapu ombak. Langkahku terarah padanya, pada lelaki yang duduk memunggungiku itu. Lelaki yang duduk di atas karang.

25 Februari 2010

Entah aku berjalan sejak kapan, yang pasti aku sangat lelah dan haus. Apalagi ketika aku sampai di sebuah pertokoan, rasa haus ini semakin menjadi-jadi. Aku membeli sebotol teh hijau yang tidak dingin. Sambil meneguknya, aku bingung harus kemana. Aku merasa tak tau arah untuk pulang ke rumah. “Hey, ngapain kamu disitu?” tanya lelaki yang lagi-lagi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. “Aku lupa jalan ke rumahku.” Kataku singkat. Lalu dia menarikku “Ya udah, ayo ikut aku pulang aja. Tidur di rumahku ya? Ibuku sudah lama ga ketemu kamu, kangen katanya.” Hah? Aku saja tak kenal siapa dia, bagaimana ibunya bisa merindukanku? Aku berjalan setengah berlari. Padahal lututku rasanya mau copot, untunglah rumahnya dekat, jadi aku belum sempat pingsan. Tapi, aku tak sempat masuk ke rumahnya.

22 Nopember 2010

Tempat ini sangat dingin. Hingga mulutku mengeluarkan uap putih seperti yang biasa aku lihat di drama korea. Begitu banyak orang yang juga berdiri di tempat yang sangat tinggi ini. aku seperti berada di puncak gunung yang bersalju. Jaya Wijaya kah? Beberapa orang berfoto-foto untuk mengabadikan momen ini. Ada pula yang hanya berbincang-bincang santai. Dan beberapa remaja sibuk dengan gadgetnya. Aku mengusapkan tanganku. Ah, bisa-bisa aku membeku disini. Aku pun mengetuk-ketukkan sepatu untuk mengurangi rasa dingin yang menjalar di seluruh tubuhku. Tiba-tiba, “Dorrr!!  Hahaa kaget yaa? Maaf lama. Pasti udah kedinginan banget ya? Nih aku bawain teh hijau kesukaanmu. Itu anget kok jadi bisa langsung diminum.” Aku langsung menoleh pada pemilik tangan yang menyodorkanku segelas teh ini. Hah? Lelaki ini lagi? Mengapa selalu dia? Dan mengapa aku selalu tak bisa melihat wajahnya? Satu-satunya yang mengingatkanku padanya hanyalah suaranya yang sedikit berat tapi menenangkan. Tapi, siapa dia sebenarnya? “Eh, malah bengong! Ini tehnya, cepet diminum, keburu dingin loh.” “Hey, jangan ngelamun dong. Ga usah terpesona gitu deh, kayak baru pertama ketemu.” katanya menggodaku.

–ooo–

16:45 – 5 Agustus 2012

Kututup buku bersampul jingga ini. Buku ini adalah buku yang kutulis khusus untuk menuliskan mimpi-mimpi yang masih kuingat hingga aku terbangun. Well, aku bukan pengingat yang baik, karena itu aku suka menulis apa saja termasuk mimpiku. Tapi ada yang aneh dari catatan mimpiku ini. Mengapa semua seperti mengarah pada lelaki itu? Suaranya yang sedikit berat, penampilannya yang santai tapi rapi, gaya bicaranya yang menyenangkan, hobinya dengan segala hal vintage termasuk gedung-gedung tua tadi, ahh, apa ini hanya perasaanku saja menghubung-hubungkan dia dengan lelaki yang beberapa kali muncul di mimpiku?

–ooo–

10:03 – 5 Agustus 2012

Deianira” “Eridani, panggil aja El” katanya sambil menjulurkan tangannya. Acara liputanku kali ini adalah meliput bangunan-bangunan tua yang ada di Jl.Gula dan bosku mengenalkanku pada El, seorang lelaki muda yang sangat mencintai sejarah termasuk sejarah bangunan-bangunan tua itu. Dia hafal luar kepala seluruh detail sejarah bangunan yang ada disana. Dia adalah narasumber yang menyenangkan. Penampilannya yang khas anak muda dan cara bicaranya yang santai membuatku nyaman dan tidak canggung sehingga seluruh sejarah yang ia ceritakan itu terserap dengan mudah olehku. Tidak ada kesan formal antara kami sehingga aku pun tidak grogi. Tidak seperti saat aku meliput tentang Jembatan Suramadu yang narasumbernya sangat ketus saat aku memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar pembangunan jembatan.  Tapi, tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat El. Atau mungkin aku sedikit mengenalnya. Tapi dimana? Aku perhatikan penampilannya. Sepatu casual coklat tua, jeans hitam, kaos merah yang dipadukan dengan jaket jeans berwarna coklat dan sebuah jam tangan yang menghiasi tangannya. Tampaknya aku pernah mengenalnya, tapi dimana?

Tulisan ini diikutsertakan pada Elfrize 4th Anniversary untuk Kategori Fiksi

Advertisements

22 thoughts on “Dia

  1. Pingback: Akhirnya, Ini Dia Pemenangnya | Elfarizi

  2. Fiqiihh … aku dedek baru di wordpress loo gak mau kenalan tah? :p *PD*

    waw ceritanya pake penanggalan-penanggalan hihihi … bagus qih. twist ending yoi yoi …
    ngasih saran boleh? CMIIW setauku dialog yang bukan di tengah paragraf nulisnya di alenia baru. kalaupun dialognya di tengah paragraf harus dikasih tanda koma atau titik sebelum dialog. <— anak baru yang sok tauk *ditimpukin fiqih* XD

    eh eh ini buat diikutin lomba yak? kalo menang traktiran yaa … 😀

  3. Ha…! kebetulan yang menarik…
    Endingnya dibikin menggantung macam itu, membikin imajinasi pembacanya bertanya2 liar. Tapi, di sisi lain, ending macam ini bikan kesal juga, karena endingnya tidak dibikin “belum berakhir” 😀

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s