Dialog Aku dan Tuhan

Dalam kekalutan fikirku ini, aku menyelesaikan shalat isya dengan perasaan datar. Aku sangat kalut hingga tak dapat menfokuskan bait-bait doaku padaMu. Sebelum menjalankan tarawih, aku ingin menyebut asmaMu, menyebutnya perlahan untuk menghilangkan segala penat yang ada.

Subhanallah walhamdulillah walaillahailallah wallahuakbar. Kulirihkan suaraku agar aku bisa memtransferkannya kedalam gelapnya jiwa.

Subhanallah walhamdulillah walaillahailallah wallahuakbar. Tak lagi lirih, kini aku menyebutkannya dengan berbisik, agar telingaku dapat sedikit menangkap apa yang bibirku ucap.

Subhanallah walhamdulillah walaillahailallah wallahuakbar. Kini frekuensi suaraku tak mampu lagi kutahan, kulantunkan dengan frekuensi normalku berbicara, berbicara padaMu.

Subhanallah walhamdulillah walaillahailallah wallahuakbar. Sedikit lebih keras. Entah mengapa mataku mulai berkaca-kaca. Aku bergetar mendengar suaraku sendiri mengagungkan asmaMu wahai Dzat Yang Maha Segalanya.

Subhanallah. . . ucap bibirku perlahan. Meresapi huruf per huruf. Maha Suci Allah, Penguasa Seluruh Alam Raya, yang mengenggam catatan kehidupanku, yang menghisab dosaku, yang menunggu bertambahnya amalanku, yang senantiasa tak pernah lelah mendengar keluh kesahku.

Walhamdulillah. . . Segala Puji BagiMu ya Allah Sang Penguasa Yang Tak Berbatas. Tuhan Yang Maha Mengatur Segala termasuk hatiku. Hatiku yang begitu rapuh dan palsu.

 Walaillahailallah wallahuakbar. . . Engkaulah Yang Satu, dan kebesaranMu melebihi segala alam semesta. Apa arti kesombonganku terhadapMu? Apa arti kepedihan tak berakhir ini jika dibandingkan dengan nikmatMu yang kuabaikan? Allah Maha Besar, yang mengumpulkan puing-puing hatiku, yang membantuku menata hancurnya perasaanku.

Subhan. .nallah. . Tangisku semakin deras. Kuelus sajadah dihadapanku. Sajadah dengan gambar Masjid Nabawi. Entah kapan aku bisa menginjakkan kakiku disana bersama kedua orang tua dan kedua adikku. Sajadah hijau ini, telah basah oleh air mataku. Ya Allah, ada apa denganku? Mengapa begitu pedih?

Walham. .dulillah. . Wa. .laillahailallah. . Wal. .lahu. .akbar. . Ya Allah, yang menggenggam hatiku, menjauhkanku dari kesia-siaan. Segala Puji BagiMu. Dua awan yang menaungi atap Masjid Nabawi ini menggambarkan kebesaranMu wahai Pelukis Jagad Raya. Tanah yang menjadi alas Masjid ini adalah bukti keberadaanMu Yang Esa, karena tak ada yang mampu menciptakan tanah dengan sejuta manfaat tempat kami berpijak yang berfungsi secara sinergis dengan langit yang menjadi atap kami.

Ya Allah. Inilah dialogku denganMu. Begitu kecil aku, bahkan tak lebih besar dari sebuah zarah. Dosa apa saja yang telah kulakukan hingga aku menyakitiMu begitu dalam? Apakah perbuatannku ini sangat menyakitiMu? Aku saja penderita sakit hati ini begitu terlarut dalam kesedihan karena suatu hal yang kecil jika dibandingkan dengan lakuku yang menyakitiMu.

Ya Allah, berapa banyak amalan yang telah kuukir hingga aku berani memintaMu untuk menghapus sakit ini? Apakah aku memang pantas mendapatkannya untuk mengurangi lukaMu karenaku?

Wahai Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Jadikanlah aku salah satu dari hamba yang Kau cintai. Aku ingin mendapatkan cintaMu dengan segala kekurangan ini. Kekurangan yang akan aku perbaiki secepatnya supaya aku lekas Engkau cintai. Karena sesungguhnya jika aku berlimpah cinta dariMu, tak akan lagi aku menderita terlalu dalam terhadap derita di Bumi.

Allah, sajadah ini telah basah, terlebih lagi mukenaku. Tangis karena menyebut asmaMu, bulu kuduk yang berdiri tiba-tiba tanpa kuketahui penyebabnya, tubuhku yang berguncang karena tangis ini semakin deras. Subhanallah, Maha Suci Engkau yang menciptakanku dengan segala kesempurnaan yang tak kusempurnakan. Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah kuterima selama ini. Laillahailallah, karena sesungguhnya tiada lagi yang dapat melakukannya selain Engkau. Allahuakbar, kebesaran yang tak tertandingi membuatku malu untuk menyombongkan diri.

Dekap aku dalam keagunganMu, peluk aku dalam kasih sayangMu, beri aku petunjuk untuk lebih ikhlas atas segala keputusan yang terbaik menurutMu. Karena terbaik bagiMu pastilah terbaik pula untukku. Amin.

Receive with simplicity everything that happens to you. – Rashi

Advertisements

7 thoughts on “Dialog Aku dan Tuhan

  1. Menangis dalam doa adalah obat, Tyara. Sering2 melafadzkan, dan air mata bercucuran karena-Nya dapat membersihkan hati kita yang kotor. Semoga kita semua dalam perlindungan-Nya. Amin.

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s