Marhabban ya Ramadhan

Marhabban ya Ramadhan \(^o^)/ alhamdulillah senangnya bisa dipertemukan dengan bulan yang penuh rahmat ini lagi ya. Semoga di bulan penuh berkah ini kita bisa meningkatkan lagi ketakwaan kita kepada Allah 🙂

Ngomong-ngomong peningkatan, IP saya naik looohhh 😀 alhamdulillaaaaaaaahhhhh bangeeettt. Ternyata Allah menghargai segala usaha saya yang tertatih sejak jatuhnya saya di semester 3 kemarin dengan hasil yang semakin manis 🙂 Terima kasih Allah yang selalu memberi hal terindah dalam hidup saya, terima kasih Rynda sahabat saya yang selalu memacu saya untuk bersaing dengannya secara tak langsung, terima kasih Bapak Ibu yang selalu mensupport saya dengan omelan karena kemalasan saya, terima kasih untuk pacar saya yang rela diduakan bahkan ditigakan dengan tugas yang seabrek, terima kasih buat semua yang selalu mendukung dan menyemangati saya ketika saya loyo 🙂

Di bulan Ramadhan tentu identik dengan jajanan-jajanan yang sangat menggoda mata apalagi godaan itu sangat terasa saat detik-detik terakhir berbuka :mrgreen: Belum lagi hijab atau gamis yang mulai marak dan bikin ngiler para kaum Hawa. Lucunya, berdasarkan pemaparan para pedagang ini, pemasukan yang mereka dapat saat bulan Ramadhan ini naik hingga 200% lebih. Hebat kan? Benar-benar bulan yang penuh berkah 😀 Tapi, disinilah keheranan saya. Saat Ramadhan, kurang lebih 14 jam kita tidak makan dan minum, sedangkan 10 jam selanjutnya digunakan untuk shalat tarawih, tadarus, tidur, eh sudah sahur lagi. Maksudnya, jam makan jadi lebih sedikit kan? Tapi kenapa orang jual makanan jadi lebih laris? Ga cuma penjual makanan sih, penjual pakaian, peci, sajadah pun meningkat pemasukannya. Apa karena ada tradisi baju baru saat lebaran atau lapar mata saat membeli makanan untuk berbuka? Yang pasti apapun alasannya, esensi untuk menahan nafsu di Bulan Ramadhan jadi sedikit melenceng dari makna seharusnya. Karena yang biasanya membeli baju baru tiga bulan sekali, saat Lebaran bisa borong 5 baju sekaligus. Yang biasanya membeli bakso cukup semangkok, saat puasa membeli dua mangkok untuk berbuka karena perasaan lapar yang membuatnya berfikir sanggup untuk menghabiskan itu semua.

Hahaa, saya ga tau sih, pemikiran seperti saya ini pasti mengundang banyak pro atau kontra. Tapi saya hanya tergelitik untuk berfikir seperti itu karena kenyataan pada bulan dimana kita harus menahan nafsu justru membuat kita lapar ini dan itu. Tradisi-tradisi seperti kembali fitri berarti kembali bersih dengan jiwa yang baru jadi dimaknai dengan penampilan baru dan akhirnya identik dengan baju baru, bukan semangat untuk menjadi pribadi baru yang lebih baik. Ya ya, semua orang memiliki penilaian yang berbeda-beda karena kacamata yang dimiliki tentulah berbeda pula. Dan tidak menutup kemungkinan postingan saya kali ini membuat kesal beberapa orang, jadi sebelumnya maaf, tidak bermaksud menyakiti atau menghakimi siapapun. Hanya pemikiran, jika salah saya mohon maaf, silahkan benarkan saya, hehee 🙂 Akhir kata, barakallah, happy fasting all 😀

Advertisements

15 thoughts on “Marhabban ya Ramadhan

  1. Bener Neng! gue aja heran!! kalo biasanya shaf masjid sepi di luar Ramadhan. Pas Ramadhan bertambah jadi banyak, seolah-olah mereka semua berlomba mencari pahala. Lha ini sebenarnya mereka menyembah Allah Apa menyembah Ramadhan!!
    Kata Imam Al-Ghazali “Menyembahlah kepada Allah, janganlah kalian menyembah Ramadhan!!”

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s