Respect Please

Jadi, hari ini saya sedang tidak dalam mood yang baik seperti biasa walau hasrat untuk menulis itu tetap berkobar :mrgreen: Saya sebal sekali dengan hal ini. Sebenarnya tidak usah dibuat emosi bisa, karena ini bukan masalah besar, tapi saya lagi pengen nulis tentang kesebalan saya ini πŸ™„ jadi tidak boleh ada yang protes mengapa saya sebal dengan hal ini #maksa, geje pula.

Saya tidak suka perokok! Keluarga besar saya adalah perokok aktif dan saya sejak hijrah ke Surabaya saat SMP sudah aktif menjadi perokok pasif. Bapak saya tidak merokok, tapi Uti saya alias ibunya ibu saya yang merokok. Adik laki-laki ibu juga merokok. Pakde saya merokok. Mayoritas keluarga besar saya dari pihak ibu merokok, tapi ibu saya tidak loh, hanya keluarganya saja. Karena saya berada di lingkungan perokok aktif dan aktif menjadi perokok pasif, saya jadi kenyang terhadap yang namanya asap rokok. Karena itu, saat di luar rumah, sebisa mungkin saya menghindar dari asap rokok. Kasihan paru-paru saya 😦 Nah, dimana saja saya bisa menghindar jika ada perokok aktif, tapi ada saat dimana saya tidak bisa menghindar, jalan raya dan ruangan ber-AC!

  • Kebanyakan para kaum Adam merokok sambil menyetir. Entah itu menyetir sepeda motor atau mobil dengan kaca jendelanya yang terbuka. Dan, H E L L O O O O O O O O Β ???? Ga cuma asap rokok yang menyerbu wajah saya yang selalu dihiasi masker saat berkendara, tetapi abu rokoknya itu looohh, masuk ke mataaaaaaaaaa! Aaaarrrggghhhh >_< saya sebal sekali kalau sudah begitu. Respect please πŸ™„ Gue dibelakang loe kaleeee #alay, abaikan. Kalau sudah begitu, keinginan untuk memacu sepeda motor lebih kencang sangatlah kuat, tapi apa daya jika saya terjebak dalam kemacetan? Huftt.

  • Saya paling tidak suka ada yang merokok di ruang ber-AC. Gilaa, rasanya di dada itu sesaknya minta ampuuuunn. Kalau ini ga lebay ga alay, bener-bener berasa susah buat nafas, di hidung itu perihnya minta ampun. Dan salah seorang dosen saya suka merokok di kelas yang ber-AC. God -_________-

Saya juga sebal jika di jalan ada yang mengoperasikan ponsel. Mungkin sedang diburu waktu dan harus membuat keputusan saat itu juga atau itu memang benar-benar mendesak, tak masalah jika memang itu alasannya. Tapi, kalau telpon atau sms yang ga penting atau bisa ditunda nanti, itu yang menyebalkan. Pernah beberapa waktu lalu, seorang ibu PNS dengan seragam coklatnya itu melenggang untuk menyebrang jalan tanpa peduli masih ada kendaraan yang melintas atau tidak sambil cekikikan. Tentu saja hal ini membuat semua pengendara menarik rem secara mendadak. Waktu di klakson, dia hanya menoleh, lalu mengibarkan rambutnya bak model iklan sampo terkenal dengan langkah Putri Solo-nya. Jelas semua pengendara sebel laaahhh, sok kiyutt bangetttttt! tapi dia cuek bebek, hihh >_<

Atau seperti siang tadi saat saya menunggu sebuah mobil L300 yang berhenti menutupi jalan menuju rumah. Saya kira, dia memang sedang bingung dalam mengambil keputusan atau menunggu temannya, tapi ternyata tidak. Usut punya usut, saat saya sedikit demi sedikit mendekati mobil, saya dengar dia sedang berhahahihi di telepon membicarakan kopi rasa garamnya semalam. Haduhhh, tolong, tolong, minggir sedikitlah πŸ™„

Ah, ini sekedar curhatan geje saya. Saya sebal dengan sesama pengguna jalan yang tidak menghormati hak pengguna jalan lainnya. Cuma itu. Jadi mohon, buat para kawan blogger, jangan gitu ya. Jalan kan buat umum, sedangkan di PPKn jaman SD dulu sudah dijelaskan, letakkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Jadi tolong, hormatilah sesama pengguna jalan. Akhir kata, barakallah πŸ™‚

Advertisements

32 thoughts on “Respect Please

  1. kEBETULAN SAYA gak perokok lebih tepatnya gak pernah walaupun ditawari teman tapi saya menolaknya, jadi saya disukai kakak kan. πŸ˜€ Bagi saya merokok gak ada manfaatnya, kasian yang udah ketergantungan.

    soal pengendara saya juga kesal, dan ada juga yang selalu melajukan mobil atau motornya dengan kecepatan tinggi saat di jalan raya. beruntung saya gak seperti itu, saya takut sakit, sakit tabrakan maksud saya. hehe

  2. merokok lah ditempat yang benar, apah lagi pas di mall2 kan ada ruangan kaca gitu yoo mbak khusus perokok kayak asep2 tok, huaah kok betah yaa mereka. #tutup idung.

  3. saya perokok, dan saya malu jika mengganggu… semoga saja, saya tidak memberikan banyak penderitaan buat orang-orang terdekat saya… πŸ™‚

      • betul sekali sob, semoga saya tidak bertemu dengan orang yang tidak sungkan-sungkan untuk menunjukan kalo dia tidak suka rokok, paling tidak biar saya langsung bisa menghentikannya… πŸ™‚

      • hahaa, kalau saya biasanya otomatis sedikit memebri tanda bahwa saya terganggu, misal dengan membelakangi perokok, gitu πŸ˜€

      • nah kalo gitu enak, saya bisa langsung “owh, maaf yah mba..” (dengan mematikan rokok di asbak)
        soalnya memang saya kadang terlalu cuek…

      • hahaa, yang susah itu seperti yang saya utarakan di postingan ini, merokok sambil nyetir. aduuuh, saya ini gampang kelilipan, dan kemasukan abu rokok di mata itu perihnya minta ampun πŸ˜₯

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s