Pengkhianatan

aku mencintai dia, sangat. hingga kata cinta itu sendiri masih kurang mampu mendeskripsikan bagaimana besarnya rasa itu. dia begitu indah, dengannya aku merasa dunia ini lebih berwarna, jika dulu aku merasa dunia fana ini hitam putih, sekarang sudah tidak. hanya dengan senyumnya, seluruh spektrum warna yang beraneka ragam secara mendadak berlomba untuk memasuki mataku.

berulang kali kau menyakiti, berulang kali kau khianati, sakit ini coba pahami, ku punya hati bukan tuk disakiti

aku memang tak sempurna. aku terlalu bersemangat berjuang di dunia yang dulu kutinggalkan. aku mengejar seluruh ketinggalanku karena dialah sumber kekuatanku. sayangnya, sikapku yang merupakan refleksi keberadaannya, membuat ia merasa terabaikan.

ku akui sungguh beratnya, meninggalkanmu yang dulu pernah ada, namun harus aku lakukan, karena ku tahu ini yang terbaik

hingga dia bertemu dengan yang lain karena pengabaianku. haruskah kutinggalkan dia yang sudah menghitamkan hatiku? ini takkan mudah, karena dialah nafasku. tapi, aku tak bisa jika harus diam dalam pengkhianatan. berlagak tak tau apa yang dia lakukan.

ku harus pergi meninggalkan kamu, yang telah hancurkan aku, sakitnya, sakitnya, oh sakitnya

perlahan aku terkikis dalam kepedihan. bertahan dengan parasit yang terus melahap sabarku. dia adalah yang terbaik, tapi mengapa ini balasannya? apakah aku salah saat membangun duniaku yang runtuh karena keputusasaanku di masa silam sebelum bertemu dengannya? aku mengumpulkan puing-puing kehancuran dan menjadikannya utuh kembali, karena dia.

cintaku lebih besar dari cintanya, mestinya kau sadar itu, bukan dia, bukan dia, tapi aku

apa yang telah ia berikan padamu? apa yang dia janjikan padamu? hingga kau meninggalkanku dalam kesakitan seperti ini? apa yang telah ia lakukan hingga kau tega, tega pada orang yang menggantungkan nadi hidupnya padamu?

begitu burukkah ini, hingga ku harus mengalah, cintaku lebih besar dari benciku

aku marah! tapi marahku ini tak mampu melahap sucinya cintaku untukmu. mengapa kau memilihnya? seberapa pantaskah ia untuk membahagiakanmu? apakah ia telah mencintaimu seperti aku? apakah ia telah menghormatimu seperti aku?

cukup aku yang rasakan, jangan dia cukup aku

baiklah. cukup ku telan sendiri pedih ini. mulai sekarang aku tak akan menggantungkan hidupku pada orang lain lagi, walaupun ia adalah orang yang teramat kucinta, sepertimu. karena jika aku melakukannya lagi, nantinya aku akan jatuh di lubang yang sama dan akan merasakan sakit yang sama. cukup aku yang kau sakiti, cukup aku yang kau khianati. aku mungkin akan sakit jika melihatmu bahagia dengannya, tapi tak mengapa. sakit ini mengajarkanku agar aku lebih dewasa dalam menyikapi cinta.

terinspirasi Bukan Dia tapi Aku oleh Judika.

Advertisements

32 thoughts on “Pengkhianatan

  1. Nice writing 🙂 Cuma rada bingung aja soalnya gak ada huruf kapitalnya sama sekali.
    Tapi overall, alunan kata-katanya cukp indah tuk dibaca ^_^

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s