Cinta Tanpa Syarat

apakah kita semua
benar-benar tulus
menyembah padaNya

pernahkah terlintas? segala ibadah yang kita lakukan itu terkadang dilakukan hanya sebagai rutinitas belaka? hanya karena  dituntut oleh sebuah kata, kewajiban. untuk apa melakukannya? ingin imbalan? atau memang ikhlas tanpa syarat?

atau mungkin kita hanya
takut pada neraka
dan inginkan surga

semua dilakukan hanya karena ingin mendapatkan imbalan? seperti seorang anak kecil yang rajin belajar setiap hari demi sebuah sepeda yang dijanjikan Ayah jika ia mendapatkan peringkat satu di kelas. yang ia cari hanyalah sepeda. ia tak mengerti esensi mengapa ia harus belajar. tanpa tau apa manfaat belajar, apa alasan Ayah menjanjikannya sepeda. 

jika surga dan neraka tak pernah ada
masihkan kau bersujud kepadaNya?
jika surga dan neraka tak pernah ada
masihkah kau menyebut namaNya?

bagaimana jika segala hal yang dijanjikan tak pernah ada? apakah yang selama ini kau cari? apa yang selama ini kau capai? untuk apa? untuk siapa? apa dasarmu dalam berucap? apa adabmu dalam bertingkah laku? surga. neraka. inikah alasanmu selama ini melakukan segala hal yang kau sebut ibadah? inikah alasanmu selalu takut berbuat dosa? supaya tak disiksa api neraka? bukan karena sungkan dengan Dia yang menciptakanmu? atau supaya kau bisa hidup enak di surga? bukan karena mencintai Dia yang selama ini memberi nikmat yang tak sempat kau syukuri satu per satu?

bisakah kita semua
benar-benar sujud sepenuh hati
karena sungguh memang Dia
memang pantas disembah
memang pantas dipuja

ah sepertinya tak bisa. diancam neraka saja masih banyak yang berbuat dosa, apalagi tak diancam? diberitahu jalan yang benar, masih saja berbelok-belok (untuk menambah pengalaman katanya). berjualan nasi, jika tujuannya untuk mencari keuntungan, akan berbeda rasanya dengan yang ingin mengenyangkan orang yang sedang lapar. hidup yang tujuannya hanya ingin kaya harta, tentu berbeda dengan mereka yang ingin kaya hati. begitu pula beribadah, tentu berbeda dengan yang mengagung-agungkan surga dengan yang memang tulus melakukannya sepenuh hati karena cintanya terhadap Sang Pencipta.

saya? kalau saya ingin dicintai oleh Sang Pencipta saja lah. tak usah neko-neko. sudah sesuci sih apa saya sampai saya bisa menjadi calon penghuni surga? membayangkan saja tidak. tidak pantas. saya ini masih banyak dosa. masih suka menyakiti orang lain tanpa saya sadari. masih belum bisa membuat Bapak Ibu bangga mempunyai saya. masih belum bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya. masih belum bisa memberangkatkan Bapak Ibu naik haji, atau membayar uang SPP adik-adik. saya hanya ingin mencintaiNya dengan cara saya sendiri. surga? neraka? hak prerogatifNya. saya ikhlas melakukan semua tanpa imbalan apa pun. akan saya jaga prinsip untuk selalu mencintai tanpa pamrih ini agar selalu ada. saya ingin mencintai tanpa syarat.

inspired by Chrisye(alm) ft Ahmad Dhani – Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Advertisements

24 thoughts on “Cinta Tanpa Syarat

  1. Hola mbak… :3 baca postingan ini… hmmm… nangis… 😥

    Betapa sering ya aku lupa sama ALLAH… Betapa sering lalai untuk dzikir… padahal ALLAH gak pernah lupa sama aku… Huhuhuhuhu… >.<

  2. Pingback: #1 Edisi Cinta | Gandi Fauzi

  3. Perkara ini sudah lama ada dalam benak saya, kami sekeluarga selalu membincangkannya.
    Mengapa melakukan sesuatu terutama hal yang baik-baik mengharapkan balasan ‘syurga’?
    Mengapa selalu menghitung pahala, apakah Allah SWT berhutang kepada kita kalau DIA tidak mengurniakanya?
    Layakkah kamu meminta balasan syurga, sedangkan rahmatNYA melebihi kehidupan kita sehari-hari?
    Sebagai seorang hamba, kita tidak harus menuntut itu semua, buatlah apa yang diperintahkanNYA, taatilah segala perintahNYA. Lakukanlah sebagaimana seorang hamba patut lakukan kepada TUHAN YANG MEMILIKI SEGALANYA.

    • iya setuju 🙂
      semua nikmat yang tak terhitung rasanya tak sebanding jika menuntut sebuah imbalan berupa surga dengan dalih telah melakukan apa yang diperintahkanNya. syukron ilmunya 🙂

  4. kalo menurut saya, cinta itu harus bersyarat. kalo gak bersayarat jadi gak ada artinya.
    memeluk Islam juga harus syahadat dulu kan? meskipun cuma sesederhana itu….(dari sisi kitanya loh ya…)
    tapi pendapat saya doang sih. hahaha

  5. semangat tiara…..
    u have a charming point sendiri, entah itu untuk tetanggamu, entah itu untuk pacarmu atau entah itu untuk orang-orang disekitarmu.
    yang pasti tanpa kehadiranmu pasti mereka merasa kehilangan.
    mereka masih membutuhkanmu.

    tetap introspeksi diri dan self development…
    *loh kok kayak udah jalanin aja gue >__<

    • ih mas arif hiperbola, ga segitunya juga kok mas, masih banyak yang harus dilakukan supaya lebih bisa bermanfaat dan membahagiakan sekitar 😀

      hahaa, mengingatkan orang lain sekaligus diri sendiri berarti 😀

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s