Belum Siap #1

dia : kemarilah, jangan takut

aku : tapi . .

dia : tidak apa-apa, lekas tanggalkan pakaianmu

aku : sekarang?

dia : iya, sekarang. aku tau ini yang pertama bagimu, tapi percayalah, ini tak seseram yang orang katakan

aku : tapi . . ehmh. . aku . . aku takut! bagaimana jika aku . .

dia : kau tak kasihan denganku? aku sudah siap, pakaianku sudah kutanggalkan dari tadi

aku : (menghela nafas)

dia : segala resiko akan kita tanggung bersama.

aku : benar ?

dia : iya, percayalah padaku.

entah mengapa, aku pun menanggalkan pakaianku satu demi satu. aku ingin tak percaya apa yang dia katakan. lalu aku berhenti sejenak saat akan melepas kancing kedua kemejaku. aku menoleh kepadanya. ternyata dia sedang menatapku, begitu dalam, sangat dalam, dan kemudian ia tersenyum. senyum itu, senyum yang menyihirku untuk melanjutkan sisa kancing kemejaku untuk dibuka. walau sebenarnya, aku masih ragu ingin melakukannya atau tidak.

aku : sekarang ?

dia : iya, sekarang. ini keduakalinya kau bertanya. tak percayakah kau denganku?

aku : aku percaya, hanya saja aku belum yakin untuk melakukannya

dia : ini tak seperti apa yang selama ini kau bayangkan. kemarilah, mendekat padaku

aku : janji ini tak menyakitkan?

dia : bagaimana mungkin aku menyakitimu?

aku berjalan sambil menundukkan kepalaku. pantaskah aku berdoa unuk hal seperti ini? berdoa agar aku diberi keyakinan untuk melakukannya? aku melangkahkan kakiku teramat pelan. sangat pelan sekali. aku memantapkan hatiku. kuyakinkan diriku sendiri agar aku berani melakukannya. kudongakkan kepalaku. aku melihatnya tengah menatapku, lalu ia sambil tersenyum. aku semakin mendekatinya, jarak antara aku dengannya semakin sempit. lalu aku memilih untuk menempatkan tubuhku disisinya. jantungku semakin berdebar, apalagi saat ia menyentuh tanganku, jantung ini semakin tak tenang. aku sangat gugup, aku tak siap melakukannya.

Advertisements

23 thoughts on “Belum Siap #1

  1. Hahaha…mbak mbak. ini fiksi ngak sampe kelar. Bikin gemes. apalagi kalo di buat lagi lanjutannya tapi, endingnya yang cucok juga. Saya suka sm blog ini di kunjungan pertama loh. slm knal:)

  2. Pingback: Sebuah Kisah Klasik Dan Masa Depan | Gandi Fauzi

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s