PR dari Mas Gandi

Assalamualaikum 🙂

setelah 8 hari libur posting, akhirnya saya kembali lagi. taraaaa :mrgreen: . karena saya masih masa pemulihan, saya bingung mau nulis apa. akhirnya saya teringat PR dari Mas Gandi yang diberikan kepada saya pada 22 Januari 2012 lalu. busyett lama amat 😮 ? hehee iya. saya bingung sih mau diisi apa PRnya ini. sampe sekarang sih tetep bingung, tapi ya sudalah, saya akan mencoba menulis dengan mengalirkan seluruh gelombang yang ada di otak saya #ngomong ngaco.

Ceritakan kembali, tentang pengalaman hidup sobat, boleh sedih, kecewa, senang, dan lainnya SELAMA itu bisa memotivasi kembali untuk BANGKIT lagi  :-)

pengalaman? uhm saya bahkan ga punya bayangan tentang pengalaman yang menggena di hati saya. yang pasti saya merasa menjadi cewe yang dewasa sebelum waktunya itu sejak saya berpisah dari kedua orang tua saya. jadi, saya itu setahun lebih awal pindah ke Surabaya dibandingkan ibu dan kedua adik saya karena alasan pendidikan. bapak saya sendiri harus berada di Samarinda karena ditugaskan disana. berada jauh dari kedua orang tua saya adalah hal pertama bagi saya. ditambah tinggal di rumah eyang saya (orang tua bapak saya) yang masih Belanda banget, buat saya stres tingkat akut. saya yang terbiasa pulang sekolah selalu menceritakan apapun hal yang saya alami selama di sekolah ternyata malah di cap berisik sama eyang saya 😥 . saya ga punya pelampiasan. cerewet saya yang sudah bawaan dari lahir ini ternyata bikin eyang saya sakit telinga. jadilah saya cerita sama diri saya sendiri yang akhirnya terbawa hingga sekarang. entah cerita, bertengkar, debat, curhat, saya lakukan itu semua hanya dengan diri saya sendiri. loh ga punya temen ya? punya, tapi saya tak terbiasa menceritakan hal pribadi kepada orang lain(saat itu, kalau sekarang alhamdulillah lebih terbuka, meminimalis ngomong sendiri di dalam hati). selain berinteraksi dengan diri sendiri, saya juga suka minggat ke toko buku. dari situ saya kenal buku harian. dari situ pula saya suka menulis. karena saya tukang galau semasa SMP, saya punya buku khusus yang isinya puisi galau. hahaha 😆 . saya suka geli sendiri kalau baca buku itu di masa sekarang. dari toko buku itu pula saya kenal buku pengembangan diri. bagaimana mencintai diri sendiri, bagaimana belajar untuk ikhlas, dsb. berbeda dengan bacaan saya sewaktu SD, Sailor Moon (suer saya ga pernah lihat kartunnya, di Banjarbaru dulu ga ada. katrook banget) Doraemon, Lupus dan Det Conan. saya juga suka mengumpulkan buku dengan tema yang sama tapi dilihat sari sudut pandang yang berbeda. contohnya waktu itu buku dengan judul “Kenapa Harus Pacaran?” (buku yang saya pilih kok temanya pacaran? norak deh >.<) yang membahas pacaran itu bla bla bla dilihat dari sudut Islam. saya beli lagi buku yang judulnya saya lupa tapi disitu juga bahas pacaran dilihat dari segi trend remaja. dari situ saya belajar bahwa

sebuah masalah harusnya dilihat dari berbagai sudut pandang

karena perbedaan sudut pandang ini yang memperkaya kita dan akhirnya membuat kita tidak kaku. andai ngerjain soal matematika nih, kita tetap bisa melakukan operasi 5-3=2 walau dalam bentuk yang berbeda, misal 2+3=5. sebenarnya ini dua cara pandang yang berbeda untuk masalah yang sama kan? hanya saja kadang kita terhenti oleh sebuah pemikiran, kalau 5-3=2, itu operasi pengurangan dan 2+3=5 kan operasi penjumlahan. itu dua operasi yang berbeda dan tidak bisa disamakan padahal kalau kita perhatikan lagi mereka itu sama, sama-sama operasi yang melibatkan angka 2, 3 dan 5 😀

ya semenjak saya suka minggat ke toko buku itu ditambah jadi “tempat sampahnya” teman-teman, saya jadi lebih banyak belajar secara teori di buku maupun di kehidupan nyatanya. entah karena saya sudah di doktrin “saya adalah anak pertama, cucu cewe tertua yang seharusnya memberi contoh dan menjadi panutan buat adik-adik” yang membuat saya seperti ini. tapi semua keadaan yang saya alami menjadikan saya jadi tidak mudah menyerah sama hidup. oke ga selalu, kadang saya merasa sia-sia setelah melakukan perjuangan yang bagi saya sudah maksimal, tapi percaya deh

Allah menyayangi kita melebihi apa yang kita duga

ibu yang sayang sama kita dan mengorbankan nyawanya untuk kita saja rela menjadi pembohong supaya anaknya tetap bisa makan walau beliau belum makan, atau berbohong jika kita tetap bisa bersekolah padahal itu dibayar dengan utang kesana kemari apalagi Allah dzat yang menciptakan dan serba maha ini, yang terkadang seluruh keputusannya tak bisa di nalar karena memang kita tak punya kemampuan untuk itu.

jadi bagi saya titik balik saya ya pas saya dipaksa secara tidak langsung untuk mandiri, nge-kos di rumah eyang saya yang masih Belanda banget membuat saya nekat melakukan keputusan apapun sendiri ternyata membuat saya yang sekarang jadi lebih tough untuk menjalani hidup.

saya ga suka terlalu teoritis, menggurui orang dengan a, b, c atau menjanjikan hal-hal kosong. saya lebih suka diam dan melakukan proses menuju hasil pun tanpa suara. hingga saat mereka melihat hasil yang saya dapatkan, mereka akan mengakui inilah saya dengan cara saya sendiri 🙂

sekarang beranjak ke pertanyaan ke dua, Ceritakan MISI HIDUP sobat ke depannya :-) 

misi hidup? hmhh. . misi itu langkah yang dilaksanakan untuk mencapai visi kan? langkah-langkahnya, ehm kayaknya saya orang ya ga pernah merencanakan hidup. oh salah, bukan ga pernah, tapi sudah lama tidak melakukan perencanaan hidup untuk jangka waktu yang panjang.

kalau misi hidup saya untuk jangka pendek, saya sedang menyiapkan mental untuk mempertahankan dan insya Allah menaikkan IP saya semester depan. karena alhamdulillah banget, semester ini meningkat drastis. dan itu miracle buat saya 😀 . itu buat hal akademik. untuk hal pekerjaan, saya sepertinya akan konsisten dengan satu murid saja karena saya juga harus membagi waktu saya untuk Uti saya. kenapa? wah baca postingan saya yang ini deh biar saya ga menceritakan lagi 😉 . saya juga mau menabung buat beli printer. bukannya bapak saya tipe bapak killer yang ga mau membagi sepeser uangnya untuk membelikan saya printer, bukan. saya hanya ingin membelinya dengan uang saya sendiri. awalnya nabung mau beli camdig, ya yang murah yang sederhana saja lah karena saya suka motretin ini dan itu. kalau pakai hape, takutnya mengandung fitnah dan mengakibatkan dipelototin orang lagi kaya kejadian disini :D. tapi sepertinya itu bukan keperluan primer, jadi saya delay untuk camdig-nya.

misi hidup jangka panjang? saya ga punya bayangan. madesu banget saya. semenjak kuliah saya terbiasa kecewa dengan hal-hal yang telah saya rencanakan dan justru dikagetkan dengan hal-hal yang tak saya rencanakan sebelumnya. hasilnya pun lebih bagus yang tak direncanakan. jadi saya sekarang akan berusaha semaksimal yang saya bisa, semampu saya supaya saya dapat hasil yang terbaik. terbaik bukan menurut saya tapi menurut Allah, karena saya ga pernah tahu pasti apa yang Allah rencanakan untuk saya sematang apapun suatu hal yang telah saya rencanakan sebelumnya. toh saya sudah berusaha, berdoa dan tawakal. masalah hasil saya mah pasrah 😀

sekianlah postingan saya yang tak terencana dan kata-katanya amburadul. oya, saya akan melampirkan “Atas nama Sang Penguasa Semesta saya mengerjakan ini dengan tulus dan jujur” sebagai copasnya mas Gandi gara-gara tahu kalau ada salah satu dosen yang mewajibkan kata itu di akhir setiap tugas yang matkulnya beliau ajar haha 😀 terima kasih sudah membaca, akhir kata, barakallah untuk kita semua 🙂

Advertisements

51 thoughts on “PR dari Mas Gandi

    • iya, makanya muka saya kayak noni Belanda 😆
      ga bang, dulu eyang tentara pelajar, jadi displin ala Belanda-nya itu masih kebawa kalau di rumah 🙂

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s