Kamu yang Bukan Kamu

Dia berlari mengejarku. “Ra, dengarkan dulu alasanku!” teriaknya dibelakangku.Aku terus berlari kearah taman labirin, kurang sedikit lagi, aku harus berhasil melarikan diri darinya. “Ra, kumohon, ini demi kita” teriaknya putus asa.

Aku belum pernah masuk ke taman labirin ini sebelumnya, tapi aku tak mau tahu, yang aku inginkan saat ini adalah menghindari lelaki yang sedang mengejarku saat ini, Herri, kekasihku yang amat ku cinta.

Aku sampai di taman labirin ini, aku sempat terhenti dan menoleh ke belakang, Herri berada 150 meter di belakangku, aku kemudian berbelok kearah kanan, lalu aku mengambil jalan ke kanan lagi hingga aku sampai di pertigaan dan aku putuskan untuk mengambil arah ke kiri. Aku terus berlari memasuki labirin itu tanpa memperdulikan lagi ingatanku akan belokan mana saja yang sudah ku ambil. Kemudian aku menoleh ke belakang, Herri sudah tak tampak dan aku tak mendengar langkah kakinya yang mengejarku lagi. Aku berhenti di ujung lorong tempatku berdiri, aku mengatur nafasku yang kececeran. “Ra, aku tahu kamu bisa mendengar suaraku” ujarnya. Dari suaranya sepertinya dia tak terlalu dekat dengan tempatku berdiri. “Deianira sayangku, aku melakukan ini karena aku ingin hidup bahagia bersamamu. Aku tidak ingin ada yang memisahkan kita, termasuk…” termasuk kematian jawabku dalam hati. “termasuk kematian sayang.” katanya lirih. Otakku sudah penuh dengan rentetan kata-kata yang siap meluncur seperti meriam, aku tak suka dengan pola fikirnya yang mulai tak rasional. Aku muak dengan rengekannya. “aku mencintaimu Ra. Sangat mencintaimu. Aku melakukan ini sebagai bukti cintaku padamu, kumohon mengertilah.” Katanya memelas. Kau jahat Herri, omelku didalam hati. Kau selalu mampu membuatku tak berdaya dengan segala ungkapan cintamu yang aku tahu itu memang tulus dari dasar hatimu.

“Deianira, Air Amerta ini kudapatkan dengan susah payah. Aku melakukan segala macam ritual di Gunung Kelud yang mengalahkan kelogisanku berfikir selama ini hanya untukmu sayang, untuk kita. Aku ingin abadi bersamamu. Kau mencintaiku kan? Iya kan?” ucapnya memaksa. “Aku mencintaimu Herri, lebih besar dari yang kau duga. Tapi aku tak mau meminum itu, aku tak mau meminum air yang tak jelas itu. Kau percaya jika itu memberikanmu keabadian? Tidak, kau bukan Herri. Kau pasti dedemit yang menyamar menjadi dia, sedangkan Herri-ku kau disekap di suatu tempat! Kembalikan Herri-ku! Kembalikan!” teriakku dengan penuh amarah. Aku mulai bicara ngawur. Aku ikut kehilangan akal sehatku. “Sayang ini aku, sungguh ini Herri yang dulu menjadi senior dalam kelompok ospekmu, yang merasa jatuh cinta padamu justru pada saat kau akan berlatih paduan suara malam itu, yang membuatmu menunggu karena aku tak kunjung menyatakan cinta padahal aku menginginkan tanggal yang cantik untuk hari jadian kita, yang…” “cukup!cukup!cukup Herri! Aku tak mau dengar lagi! Aku benci! Aku benci kamu yang tak realisitis lagi!” nafasku semakin memburu, tangisku meledak, aku tak kuasa berdiri lagi, aku terduduk dan aku menangis sejadi-jadinya. Ini seperti terhisap Black Hole yang tak pernah kau tahu dimana ini akan berakhir padahal kau sulit untuk mengambil nafas.

“Ra, pernikahan kita tinggal seminggu lagi sayang. Aku berharap kau mau memikirkannya lagi. Aku telah meminum Air Amerta bagianku, temui aku jika kau mau, tapi jika kau tak mau mungkin aku akan abadi dalam kesepian. Ku tunggu kau di batas cakrawala senja tempat kita biasa menghabiskan sore menanti matahari tenggelam kesukaanmu. Aku mencintaimu Deianira-ku.”

Word Count 525

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Advertisements

55 thoughts on “Kamu yang Bukan Kamu

    • sebenarnya Deianira itu nama istri kedua dari Hercules. kalau istri pertama namanya Iole. terinspirasi sama ambrosia itu legenda Yunani, jadi ingat nama kesukaanku Deianira, Sep 😀
      makanya lakinya namanya Herri, sebutan lain untuk Hercules, wkwkw 😆

  1. cerpenya keren tapi kayaknya ne harus bersambung…
    sebagai pembaca saya bertanya bagaimana nasib heri ?? apa terus menunggu atau ra berubah pikiran jadi mau menemui heri ?? sehingga heri tidak harus menunggu lagi..

  2. Pingback: Blogger Award Kedua | Draft Corner

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s