Sandal

Assalamualaikum 🙂

kali ini saya mau cerita tentang sandal nih . ada apa dengan sandal ? yang pasti bukan cerita tentang kehilangan sandal di masjid karena saya hampir bisa dibilang ga pernah pakai sandal . wow sombong 😀 tapi itu benar , dan izinkan saya bercerita asal muasal kenapa saya hampir ga pernah pakai sandal 😉

jadi , sewaktu saya kecil , kita-kira baru lulus TK lah , waktu itu saya punya sandal model sandal jepit gitu , merah muda (padahal saya paling alergi sama warna itu sampai saya SMA , begitu kuliah udah bisa berdamai sama warna itu karena dilihat-lihat , versi softnya oke juga , hehe) . ada bunganya juga . hahaa , khas sandalnya anak kecil lah pokoknya . saya suka banget pakai sandal itu , berasa paling modis diantara teman-teman yang lain (masih kecil aja belagu ) . kemana-mana saya pakai sandal itu , sampai suatu saat ibu saya bilang “jari kaki kamu kok tambah benggang (jarak antar jari berjauhan) ? hati-hati , jari kaki benggang tanda orangnya boros” . Jdieng !!! bak kejatuhan bulan ! saya perhatikan jari-jari kaki saya , lalu saya berfikir gimana caranya biar saya ga boros . atau paling ga , ga ada yang tau kalo saya boros . kali aja ada yang lihat ke kaki trus ketahuan borosnya (pikiran anak kecil) . intinya saya harus cari cara biar jari kaki saya ga renggang .

pertama saya pikir karena saya kebanyakan main enggrang . kan cara mainnya bambu dijepit diantara jempol dan telunjuk kaki . akhirnya keputusan pertama saya akan berhenti main enggrang . lalu saya cari alasan lainnya . alasan terbesar yang sebenarnya tidak mau saya akui . apakah itu? sandal merah muda kesayangan saya . itu patut dijadikan kambing hitam . karena dia satu-satunya media yang paling sering memisahkan jempol kaki saya dengan telunjuk . berat awalnya untuk berpisah dengan benda kesayangan saya itu . walaupun warnanya sudah tak merah muda sempurna . ada semu kecoklatannya karena seringnya dipakai, tapi akhirnya saya putuskan untuk berpisah dengan sandal itu . demi tujuan saya , supaya jari kaki tidak lagi renggang .

akhirnya saya terbiasa untuk tidak memakai sandal , karena keputusan berat saya sewaktu kecil , berpisah dengan sandal kesayangan itu membuat saya tak ingin mengingat-ingatnya lagi (alay) . hahaa , ditambah takut di cap sebagai anak yang boros . sampai saat saya SMA . Waktu itu ada teman SMP yang mau berkunjung kerumah dan minta dijemput diujung jalan . saya fikir , ah cuma ke ujung jalan , masa saya pakai sepatu ? akhirnya saya jemput teman saya dengan sandal swallow warna oren milik om saya . lagi enak-enak jalan , entah karena saya yang terlalu gagah berani atau bagaimana , sandalnya putus ! tanpa pikir panjang , saya copot sandal itu , lalu saya cincing agar tak menghambat perjalanan 😀 begitu teman saya melihat saya , komentar pedasnya adalah “ngapain kamu cincing tuh sandal kalo ga kamu pakai ? dari SMP kok tetep ga ada feminimnya”

semenjak itu sampai sekarang saya ga punya benda yang namanya sandal . ya selain karena saya terlalu gagah berani itu, sampai sandal itu tewas dalam hitungan menit di kaki saya 😀 ditambah sudah terbiasa . walau pada akhirnya , kaki saya ya tetap aja begitu bentuknya . ga ada pengaruh dari frekuensi pemakaian sandal seperti yang saya duga dulu . hehee

Advertisements

10 thoughts on “Sandal

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s