Iri

Mungkin setiap orang mempunyai berbagai perasaan dalam merespon suatu masalah atau kejadian . Dan mungkin perasaan itu yang membedakan watak orang yang satu dengan orang yang lainnya . Beberapa hari yang lalu , seorang teman bercerita kepada saya . Dia selalu merasa iri dengan kekayaan orang lain , tiak suka jika ada seseorang mempunyai kelebihan . Dia tahu , Tuhan sudah mengatur rejeki untuk tiap-tiap umatNya tapi tetap saja rasa iri itu bersarang di hatinya . Karena bingung dan lelah juga dengan perasaan itu dia memutuskan untuk bercerita kepada saya . Sebelumnya dia belum pernah menceritakan itu kepada siapa pun juga .

Apa tanggapan saya ? hahaa , saya hanya remaja biasa , jadi saya menilainya ya dari kacamata saya sebagai remaja . Saya bilang , iri itu wajar . Asalkan itu bisa membangun citra dirinya agar lebih baik dari orang yang dia iri-kan tadi . Iri itu bukan masalah jika dengan itu dia mampu berusaha lebih agar kehidupannya pun menjadi lebih baik . Dia bilang itu susah . Kemudian dia bertanya apa arti hidup bagi saya . Wahh , mulai berat pembicaraan kami . Saya jawab , bagi saya hidup adalah bermimpi . Berrmimpi untuk bisa mendapatkan segala hal terbaik di dunia . Terbaik untuk mengangkat kehidupan saya ke taraf yang lebih tinggi . Setelah menyusun mimpi maka bagi saya hidup adalah berjuang . Berjuang untuk mendapatkan hal-hal yang telah saya impikan tadi . Berjuang agar saya tidak terseleksi alam . Jujur , saya bukan orang yang cerdas , sehingga saya harus mencoba dan berusaha lebih keras daripada lainnya . Dalam berjuang tentu kita menginginkan hasil yang maksimal . Yang sepadan dengan kerasnya usaha kita . Tapi , jika Tuhan berkehendak lain , mau apa ? Terbaik menurut kita belum tentu terbaik untuk Tuhan . Tuhan bukan manusia yang asal memutuskan tanpa berfikir dampak selanjutnya . Jadi bagi saya sesudah berjuang , hidup adalah bersyukur . Mensyukuri apa pun hasil yang saya dapatkan . Karena saya percaya Tuhan mempunyai rencana lain jika segala mimpi dan perjuangan saya berakhir dengan hasil yang tidak saya inginkan .

Teman saya diam , baginya , bermimpi hanya membuang waktu . Dia sudah lelah berjuang karena selalu saja hasilnya minim . Bersyukur adalah hal yang sudah jarang dia lakukan karena dia beranggapan Tuhan sudah melupakannya . Saya bingung , mau jawab apalagi karena ini semua hanya satu masalahnya menurut saya , dia tidak mau berubah . Dia hanya iri tapi dia terlena dengan kenyamanannya saat ini .

Lalu saya pun berkata , mungkin masalahnya ada pada dirinya sendiri . Dia sudah berada teralu jauh dengan Tuhan . Dia tidak mau melihat nikmat-nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya . Ya tentu saja , seperti kata pepatah “rumput tetangga lebih hijau” karena dia tidak pernah melihat apa saja yang telah dia miliki . Dia melihat kelebihan dari temannya kemudian menggerutu tanpa ada usaha untuk berubah . Jadi kesimpulan yang saya berikan kepadanya , rajin-rajin mendekatkan diri kepada Tuhan . Jangan terlalu sering melihat ke atas , karena tak ada kata cukup jika kita mendongak , tapi tundukkan kepala , karena lebih banyak , lebih banyak orang yang tidak seberuntung dia . Akhirnya dia menatap saya dalam-dalam kemudian berkata , “terima kasih , bantu saya , karena saya tak mampu melakukannya sendiri” .

Advertisements

11 thoughts on “Iri

  1. good…mnusia gk akn prnh mrasa puas smpai titik apapun skalipun tuch suda smpai pada titik puncak yg Tuhan berikan…sbg mnusia qt cm prlu b’syukur sja pda apapun yg tlah qt pnya…

monggoh komentar , tapi yang sopan yah :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s