kemana semburat jingga yang selalu mewarnai senjaku ?
kemanakah cahaya keemasan yang menghangatkan soreku ?
terpurukku seiring tak adanya jingga .
aku terpuruk , begitu dalam hingga ku tak tau harus bagaimana .
tersandung , terpuruk , lalu aku jatuh tanpa sanggup untuk menapakkan kakiku .
menapakkan kakiku untuk mencari jingga yang hilang .
kemanakah cahaya keemasan yang menghangatkan soreku ?
terpurukku seiring tak adanya jingga .
aku terpuruk , begitu dalam hingga ku tak tau harus bagaimana .
tersandung , terpuruk , lalu aku jatuh tanpa sanggup untuk menapakkan kakiku .
menapakkan kakiku untuk mencari jingga yang hilang .
bahkan disaat aku terpuruk seperti ini aku tetap harus memilih
ah , aku amat bermasalah dalam hal memilih antara dua keadaan .
aku benci ketika harus memilih karena aku tak mampu tegas !
munafiknya aku .
ah , aku amat bermasalah dalam hal memilih antara dua keadaan .
aku benci ketika harus memilih karena aku tak mampu tegas !
munafiknya aku .
sedalam apapun aku terjatuh , aku harus memilih .
meratap dalam keterpurukan ini atau menguatkan kakiku ?
baiklah baiklah .
aku harus berdamai dengan keadaan ini .
aku harus kuatkan kakiku .
agar aku dapat menemukan jingga itu .
jingga yang selalu mewarnai senjaku .
aku harus cepat berdiri dan bangkit untuk mencarinya .
sebelum senja menghilang berganti malam kelam .
Advertisement
Pingback: The Super Eleven « Gandi Rizal
Saleum,
Sesekali biarkanlah senja itu memberi warna baru dalam kehidupanmu. Apa gak capek jingga terus yang dilihat? terkadang dengan pergantian warnapun akan melahirkan suasana yang baru dan tentunya lebih maknyoss
saya suka jingga
Jingga itu mungkin saja berubah menjadi rona merah, tapi bukan kemerahan. Ia natural mewarnai sinar mentari di sore “buta”
Dalem banget mba Tiara…
itu kata-katanya mas juga dalem
menentukan pilihan kadang sulit..tapi akan lebih sulit lagi kalau tidak memilih..
iya , bertahan pada hal yang ga pasti soalnya
Lagi galau ya, Fiq…?? hehe..
Nah itu bisa merangkai kata?? Jare ora iso, ngapusiii,
ngapusi ? aku ga punya penghapus :p
#dulu dari banjar , waktu ada yang bilang ngapusi saya kira maksudnya penghapus beneran
Whahahahaha,,, #Lucu amat, fiq.
Katanya si ilmii, fiqih orang SBY asli..??
Ywd, nanti beli penghapus yaaa??
saya sby asli , bapak ibu juga tulen sby , tapi separuh hidup saya di kalimantan 8-|
Beruntung dirimu, fiq… Bisa menjelajah,
mnjelajah kmn mas :p
Menjelajah kemana kaki akan melangkah, hehe…
biarkan puisi merangkai katanya sendiri
hidup adalah sebuah pilihan,.,.,dan pilihan itu akan menentukan masa depan kita kelak.,.,.,puisi yang indah
iya bener , pintar-pintar memilih , makasih
Kalo versi saya,senja tu masa tua ungu tu masa apa ya? Hi.hi..hi..
senja itu dari terang ke gelap , redup-redup gimana gitu
hidup itu pilihan… semua pilihan ada resikonya
iya , jdi harus pintar-pintar menentukan pilihan biar ga salah pilih #mbulet
waktu kita sedih, percayalah grafik hidup kita akan naik ke puncak meraih keindahan.. tapi, waktu kita bahagia, grafik hidup kita sedang ada di puncak tertinggi dan bersiap kalau sewaktu-waktu akan turun #belajardari grafikehidupan
hihii iyaa , karena semua itu ada masanya
puisinya keren lah….
tapi itu perangkaian katanya masih kurang menurutku
biarkan puisi merangaki katanya sendiri
hihi , iya , mengalir apa adanya
puisinya menyentuh raga, sukma sampai mata tak lagi bisa membaca arti pudarnya warna sang mega (nyoba puitis)
keren mbak puisinya
hihi makasih makasih . jadi malu
apapun pilihannya itu adalah sebuah keputusan….
iya walau sulit tapi harus